|
Pisang caramel itulah namanya. Biasa kita jumpai di kota Semarang. Makanan ini terbuat dari kulit lumpia yang didalamnya diisi dengan pisang raja, coklat dan gula dan kemudian digoreng. Khasnya makanan ini renyah, manis dan gurih. Makanan ini cocok untuk camilan dirumah, snack jamuan pertemuan ataupun untuk santai. Selain Semarang, makanan ini ternyata juga ada di Kudus. Pisang caramel buatan Bu Hartini, kriuknya tahan 3 hari. Ini yang membedakan pisang karamel Bu Hartini dengan yang lain. Harga pisang karamelnya cukup murah Rp 1000 per buah dan bisa dipesan kalau ada jasa pengiriman yang cepat. Sekarang produksinya perhari baru 2500 buah yang rutin, sedangkan bila ada pesanan maka produksinya akan bertambah. Sekarang Bu Hartini telah memodifikasi produknya dengan nangka karamel, tape karamel dan nanas karamel. Untuk pemesaan diluar daerah, bila tersedia jasa pengiriman sehari sampai tujuan akan dilayaninya, kalau tidak ya... belum bisa. Ini karena produknya tahan hanya 3-4 hari saja.
Belajar, tanpa sengaja. Sang guru dikirim oleh Tuhan, ungkap beliau ketika ditanya tentang asal mula muncul gagasan untuk mengembangkan usaha pisang karamel. Kebetulan beliau berasal dari kota Semarang, awal-awalnya karena belum bisa membuat kulit lumpia, beliau mendatangkan dari Semarang. Pernah suatu saat beliau menanyakan ke pembuat kulit lumpia tentang resep dan proses pembuatannya, namun selalu dipatok harga yang cukup tinggi. Suatu saat ada kawannya yang ingin bertempat tinggal sementara ke tempat beliau, karena untuk menenangkan diri dari persoalan keluarga. Saat itu beliau bimbang, namun akhirnya diputuskan untuk menerima temannya tersebut. Ternyata temannya tersebut punya keahlian membuat kulit lumpia, dan mulai membuatnya untuk bertahan hidup. Nah... selama 2 bulan inilah temannya membuat kulit lumpia dan dibeli oleh bu Hartini. Setelah 2 bulan temannya harus pulang setelah tenang, nah.... mulai sejak itu belia membuat sendiri dengan berbekal belajar dari guru yang tanpa sengaja tersebut. Bagi beliau ilmu tidak harus ditutupi, siapapun yang akan belajar dipersilakan datang kerumahnya. Beliau merasa tidak takut tersaingi, karena rejeki itu sudah ada baginya. Keyakinan untuk tetap bisa hidup, merupakan pembelajaran yang beliau rasakan selama ini. Beliau juga mengaku bahwa untuk bisa menemukan resep yang tepat, dengan mencoba-coba sampai dengan menemukan ramuan yang pas. ”Selamat berkarya perempuan, kita sudah diberi kekuatan dari Tuhan, gunakan untuk kebaikan untuk umat,” ungkap beliau . Rk
 |